Senin, 26 November 2012

RESUME, PERSPEKTIF BARU PENULISAN SEJARAH INDONESIA

PERSPEKTIF BARU PENULISAN SEJARAH INDONESIA


Di Indonesia sekarang, minat pada masa lalu semakin tinggi setelah pemerintah melonggar kendalinya yang sebelumnya ketat, atas warga masyarakat. Para peneliti Indonesia, yang telah fasih dengan sejarah nasional hasil perjuangan, sekarang mengakui bahwa Indonesia sedang terpecah belah. Aceh adalah salah satu dari berbagai tantangan terbesar yang dihadapi narasi besar persatuan Indonesia.

            Foto adalah catatan yang direkayasa secara canggih, hasil dari hubungan sekilas antara orang yang difoto dengan juru foto. Sebagai bahan sejarah, foto dapat dimanipulasi melalui seleksi, seperti halnya dengan sumber-sumber lain. Pada masa lalu, untuk memperoleh foto-foto KITLV peneliti harus datang ke tempat penyimpanan di Leiden. Sekarang, setelah KITLV menyebarkan koleksinya yang besar melalui internet, foto-foto dapat diperoleh dengan mudah dari titik mana saja di dunia. Bagi peneliti Indonesia, arsip elektronik itu sangat penting, karena merupakan cara tercepat untuk memperoleh sumber-sumber tambahan untuk menyusun sejarah-sejarah baru Indonesia.



Foto sebagai bahan untuk penulisan sejarah
            Sebagian besar gambar mengenai Aceh berbentuk foto, tetapi koleksi itu juga mencakup sejumlah sketsa, lukisan, dan kartun surat kabar. Semuanya diambil antara 1874 dan 1939. Setiap foto diberi judul berbahasa Belanda, sedangkan kata kunci untuk mencari lokasi foto dalam bahasa Inggris. Pemerintah Hindia Belanda cepat memahami potensi fotografi. Setelah foto dapat diperbanyak kemudian bahan kimia dan kertas foto dapat dipesan dengan telegram dari Belanda secara berkala dan dikirimkan dengan cepat dengan kapal uap melalui Terusan Suez, timbul industri baru di Jawa.
            Dampak dari pemesanan kamera Kodak untuk umum, sejak tahun 1888 fotografi tidak lagi terbatas untuk profesional saja. Para fotografer kolonial lebih mencurahkan perhatian pada simbol-simbol status dalam foto-foto native (pribumi) dan diambil di studio, dengan jarak yang terbentang antara orang yang melihat foto dan orang yang dilihat, dan pada proses membedakan (othering). Dalam album Het album van Mientje dari tahun 1862 (terbit tahun 2005) orang Indonesia bukan sebagai suatu ‘tipe’, tetapi sebagai teman keluarga, rekan, atau pelayan. Para fotografer pribumi mengambil foto orang Eropa dan juga sesama pribumi, yakni orang Jawa (Knaap 1999). Foto-foto yang diambil orang Indonesia ketika berkunjung ke Belanda pada tahun 1920-an dan 1930-an juga harusnya dapat digunakan sebagai bahan perbandingan yang berharga bagi penelitian mengenai bagaimana orang Eropa dipotret oleh orang Indonesia.
            Foto-foto paling awal yang diambil oleh orang Eropa di Aceh adalah foto-foto serbuan pertama yang dilancarkan Belanda pada 1873, yang disebut “ekspedisi militer” dalam sumber-sumber. Ada bermacam-macam tanggal yang disebutkan pihak militer Belanda mengenai akhir dari Perang Aceh. Periode selama enam puluh tahun ini, 1870-an hingga 1930-an merupakan periode berbagai perang berkecamuk di seluruh kepulauan Indonesia. Periode itu disebut era “ kolonialisme tinggi”, karena tata aturan yang seragam dalam bidang layanan administrasi , perdagangan, pendidikan, kesehatan, dan pertanian ditetapkan, bahkan semua pulau berhasil dihubungkan melalui kapal uap, pos, dan telegraf dengan ibukota kolonial. Tahun 1870-an-1930-an juga dinamakan era tempo doeloe, yakni masa yang dikenang di Belanda dengan penuh rasa rindu oleh generasi tua dan orang-orang Indo-Eropa.

Setelah semua foto tentang Aceh koleksi KITLV diperiksa dengan teliti, ternyata banyak subjek foto yang lain di bawah kata kunci “Aceh”. Gambar-gambar itu sangat beragam, dibandingkan dengan tema-tema sejarah dan dengan gambar-gambar yang berkaitan dengan perang dalam buku-buku sejarah; hal ini mungkin dapat dijelaskan oleh tempat penyimpanan koleksi itu, yakni Anthropological Institute di Leiden. Foto-foto KITLV juga merekam interaksi sosial antara elite Belanda dengan elite Aceh. Foto-foto ini, bila disandingkan dengan foto-foto tempo doeloe dari Jawa, merupakan sumber bahan untuk penelitian perbandingan masyarakat kolonial satu sama lain di seluruh Nusantara.
            Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa foto selain dapat memperkaya kisah-kisah sejarah, juga dapat membukakan dan menawarkan topik-topik baru untuk penelitian.
Sejarah Aceh, beberapa contoh
            Pada zaman sekarang, sejarah Aceh dalam berbagai versi yang sangat berbeda, yang ditulis oleh sejarawan profesional dan populer, bersaing memperebutkan tempat dalam majalah-majalah ilmiah dan laman (website). Bagi umumnya sejarawan yang menulis sejak tahun 1950-an, Aceh penting dalam kisah pembentukan Republik Indonesia. Para peneliti menekankan, ujung utara Sumatra itu satu-satunya wilayah di seluruh Indonesia yang tidak pernah diduduki kembali oleh militer dan pemerintahan sipil Belanda pada waktu perjuangan kemerdekaan. Pada waktu bersamaan, muncul kisah lain, kisah berlawanan yang melepaskan Aceh dari narasi besar pembentukan Indonesia. Kisah berlawanan ini mengatakan, Belanda seharusnya menyerahkan kedaulatan pada tahun 1949 kepada dua Negara baru, satu terdiri dari Jawa dan Indonesia Timur, dan satu lagi Aceh-Sumatra.Tampaknya ada sebuah pola tertentu dalam sejarah Aceh, akibat perang di tingkat bawah yang sering terjadi antara wilayah-wilayah kecil, yang merupakan wilayah-wilayah perpecahan kerajaan. Belanda menyusup ke dalam konflik antar orang Aceh, dengan tujuan mencapai target dalam Perang Aceh. Bagi Indonesia, perang barangkali paling menonjol sebagai subjek kajian mengenai Aceh.
Tema-tema penting yang menonjol dalam tulisan sejarawan populer, terutama untuk tujuan politik, dan tidak menyebutkan sumber-sumbernya atau tidak diterbitkan oleh penerbit bermutu, menyangkut menentukan tanggal kedatangan Islam di Aceh dan kedudukan Hasan di Tiro. Para peneliti yang menggunakan batu nisa raja sebagai dasar untuk menetapkan tanggal lahir masyarakat Islam pertama (misalnya, Ricklefs 2001; Hill 1963), merupakan manipulasi Barat untuk meremehkan arti Islam di Aceh. Menyusul kemudian kisah-kisah tentang tanda-tanda kebesaran tertentu dan suratan tangan yang sudah bergaris pada waktu ia masih kanak-kanak.
Di Leiden, di Museum Etnografi, di bagian Indonesia, tidak ada pameran mengenai Aceh dalam bentuk objek pada bulan November 2005. Pada November 2005, laman pariwisata pemerintah Indonesia dan biro pariwisata swasta Belanda memberikan saran yang hampir sama mengenai Aceh. Laman Belanda itu juga menyarankan kunjungan ke tugu peringatan yang dibangun pemerintah Indonesia sebagai ucapan terima kasih kepada rakyat Aceh atas dukungan moral dan materi mereka selama perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Laman pemerintah Indonesia diam seribu bahasa mengenai tugas peringatan ini.
Aceh sedikit sekali terlihat dalam kondisi visual tentang seni Indonesia. Tidak ada contoh seni Aceh dalam buku perintis karangan Claire Holt, Art in Indonesia (1967). Selain itu, hubungan yang tidak baik antara sultan-sultan Aceh di Istana Orange-Nassau pada abad ke-19 dan penghapusan kesultanan Aceh oleh Belanda pada 1874, berarti hampir tidak ada benda-benda wakil dari Aceh di antara harta benda yang dimiliki keluarga kerajaan Belanda.
Masa lalu Indonesia tampil menurut wilayah (Sumatra, Jawa, dan seterusnya), yang dikelompokkan di bawah judul, seperti alam, elite politik, angkutan, kota, industri primer, dan pendidikan. Boomgaard memasukkan satu foto yang sangat langka, yakni foto seekor gajah yang sedang mengangkut perbekalan militer (255). Sebanyak 25.000 orang Jawa menjalani hukuman kerja paksa di Aceh dalam keadaan yang demikian kejam sehingga merekalah yang paling banyak menjadi korban tewas pada tahun-tahun perang berkecamuk (Van ‘t Veer 1967:311). Antara 1893 dan 1930-an ada ribuan foto kota-kota Indonesia yang diambil untuk kartupos bergambar kota Indonesia, pemandangan alam, dan arsitektur kuno dan modern, dan juga foto-foto “tipe-tipe Hindia Belanda” yang diambil di studio. Aceh diwakili dalam koleksi ini dalam bab dari Sumatra oleh sebuah jalan kereta api dan lima kartupos bergambar dari Sabang, daerah perumahan Belanda di Pulau We di sekitar pelabuhannya yang strategis, pangkalan angkatan laut, pangkalan pengisian batu bara, galangan kering dan mercu suar.
Pengaruh Islam pada corak benda seni, menurut Leigh, lebih banyak pada bagian kedua abad ke-20), misalnya kaligrafi Arab yang semakin banyak digunakan untuk hiasan. Tinjauan singkat sejarah, ensiklopedia, laman, dan buku-buku seni ini menghasilkan kesimpulan bahwa Aceh jarang ditampilkan dalam dimensi-dimensi yang lain selain dari dimensi perang. Sejarah perang membayang-bayangi kehidupan orang Aceh pada masa lalu dan ini terus ditampilkan seperti itu, di dalam Indonesia masa kini. Tampaknya seolah-olah Aceh berperan untuk mengingatkan orang Indonesia pada perlawanan dan penaklukan yang terjadi pada zaman kolonial yang kejam. Dari perang-perang kolonial  yang terjadi selama 75 tahun terakhir pemerintahan Belanda, Perang Aceh paling banyak difoto. Para penulis Belanda menggambarkan puputan sebagai “zelfmoord” (bunuh diri), istilah yang juga mereka gunakan untuk menggambarkan orang Aceh dan orang Gayo yang tewas dalam pertempuran. Buku-buku koleksi lukisan dan foto adalah hasil dari pilihan-pilihan penulisan. Ada ratusan ribu foto mengenai Indonesia, tetapi seorang penulis paling banyak hanya dapat memilih beberapa lusin foto saja. Bila Aceh ditampilkan, pengetahuan mengenai konflik pada masa lalu menghasilkan pilihan-pilihan yang lain: gambar serdadu, benteng, dan mayat-mayat bergelimpangan.
Narasi foto
Dalam pembahasan berikut, foto-foto ini diidentifikasi menurut nomor masing-masing di KITLV, agar foto-foto itu dapat diihat dalam internet atau melalui CD-ROM yang menyetai buku itu. Diskusi dilakukan secara kronologis dan menurut tema, seperti dilakukan foto-foto itu sendiri, dengan topik-topik militer mengenai perang, pendudukan, infrastruktur, dan administrasi. Kebiasaan Barat termasuk pesanan foto keluarga oleh orang-orang Aceh terkemuka, dan foto-foto bersama dengan orang Belanda dari kalangan kantor pemerintah kolonial. Foto-foto yang lain dipilih karena menimbulkan pertanyaan mengenai sampai sejauh mana Belanda telah berurat berakar di Aceh sebelum Jepang masuk. Foto-foto sebanyak 49 itu diikutsertakan dalam dialog dengan sejarah-sejarah yang telah dibaca
            Foto-foto itu menunjukkan dengan jelas mengapa Belanda tidak berhasil menemukan istana itu pada pendaratan pertama. Rawa-rawa di sekeliling kraton, tanah kosong, dan kuburan yang terlantar sangat berbeda dengan kisah-kisah Eropa dan Aceh mengenai keagungan Kerajaan Aceh pada abad ke-17. Pada abad ke-19, Aceh menghasilkan separuh dari kebutuhan dunia akan lada (Reid 2005:338), tetapi lada dari perniagaan lada tidak dapat membiayai perlawanan bersama dan terus menerus orang Aceh terhadap kekuatan Belanda. Karena penghasilan yang diperoleh dari pasar lada dunia terbagi-bagi di antara banyak raja-raja kecil, sementara setiap desa berlindung di balik dinding dari tanah liat dan pagar pohon bambu yang lebat. Akibatnya, ketika Belanda menyerbu Aceh, mereka terperangkap dalam perang-perang lokal, dan harus melakukan serbuan dengan situasi di mana desa-desa sudah dilindungi benteng, dan untuk menembus benteng itu hanya satu hal yang dapat dilakukan, yakni bertempur (Kiestra 1883:9).
            Belanda bergerak cepat untuk menanamkan pengertian kepada orang Aceh bahwa Belanda adalah penguasa baru mereka dengan mendirikan rumah kediaman gubernur di atas tanah bekas bongkaran kediaman pribadi Mahmud Shah di areal dalem. Kekuasaan kolonial, di mana saja, bergantung pada persekutuan antara kekuatan asing dengan elite setempat. Penjajahan membawa orang Indonesia dari pulau-pulau yang lain di koloni itu masuk ke Aceh. Sebagian besar serdadu yang bertugas di Aceh adalah orang Indonesia dari Jawa, Madura, Ambon dan Menado, dan pada pasukan invasi kedua ada pasukan yang terdiri dari 180 serdadu berbedil dari Afrika Barat (disebut “blanda item” oleh orang Aceh) (Van ‘t Veer 1969:118). Pengalaman orang Aceh menentang Belanda karena itu termasuk pengalaman bertempur melawan serdadu dari suku-suku yang berasal dari pulau-pulau yang lain.
            Lembaga-lembaga dan tangga karir kolonial yang mendorong orang Indonesia untuk berpergian di sekitar Nusantara memperbesar kesadaran akan budaya materiil suku-suku yang lain. Pasukan kolonial juga memperkenalkan tenaga kerja orang hukuman kerja paksa asal Jawa kepada orang Aceh. Laki-laki Jawa yang dihukum penjara lebih dari dua belas tahun selalu diangkut dengan kapal ke Aceh dan disitu mereka diperkerjakan sebagai pengangkut barang dan buruh bangunan. Untuk mempertahankan tempat berpijak di Aceh dan mempertahankan diri dari serangan-serangan orang Aceh, pihak KNIL menggunakan tenaga orang hukuman kerja paksa untuk membangun benteng-benteng yang membentuk setengah lingkaran di sekeliling ibukota itu (Garis pantai dan kapal-kapal perang membentuk garis pertahanan setengah lingkaran yang satu lagi). Sistem jalan kereta api dan jembatan yang difoto mewakili sebuah masukan tenaga kerja yang sangat besar. Proyek-proyek bangunan pastilah menciptakan kesempatan bagi kaum perempuan untuk memperoleh penghasilan tunai dari usaha menyediakan makanan, jajanan, dan minuman bagi para pekerja. Tenaga kerja orang tahanan tidak ada dalam sebagian besar foto-foto yang merekam hasil kerja mereka, atau merupakan orang-orang tanpa nama yang bekerja membangun jalan raya, jalan kereta api, dermaga, instalasi listrik, dan kantor telegraf.
            Sejak tahun 1920-an keadaan kehidupan orang Jawa yang menjalani hukuman sudah lebih baik dari segi makanan dan cara mereka diperlakukan. Pada tahap-tahap kemudian operasi militer di Aceh sebatas patroli-patroli KNIL berskala kecil, dibentuk untuk mengejar pejuang Aceh di tempat-tempat persembunyian mereka di pegunungan. Meski demikian, masih banyak pertanyaan yang tetap belum terjawab untuk episode ini dalam sejarah Indonesia mengenai perang. Jalan raya Gayo yang selesai pada 1913 membuka daerah dataran tinggi ke Minangkabau dan juga bagi para pengusaha Eropa yang menyewa tanah untuk perkebunan sisal dan kopi yang mendatangkan kuli-kuli Jawa untuk mengolah perkebunan-perkebunan itu.
            Varian-varian yang lain dari foto-foto “etnografi” adalah yang menunjukkan penduduk asli dalam pakaian adat atau pakaian upacara. Juru foto keliling dan seniman lebih cenderung menyebutkan nama tempat, seperti gunung dan tempat pemandangan yang indah, daripada nama orang.
Menjelang akhir abad ke-19 emas dan batu manikam itu sudah lama lenyap. Masjid Bait ur-Rohman mulai dibangun pada 1879, persis lima tahun setelah ibukota itu ditakukkan, dan selesai pada 1881. Tiga kubah yang lain ditambahkan ketika ada renovasi dan perluasan pada tahun 1936. Orang Belanda mengagumi seni ukiran kayu Aceh dan juga menggunakannya dalam arsitektur bangunan mereka. Pada foto-foto dari periode yang sama di Jawa, Orang Eropa biasanya difoto di tengah-tengah pelayan keluarga yang berasal dari desa dan kota di Jawa. Tipe masyarakat Tempo Doeloe yang berakar kuat di Jawa, tempat generasi demi generasi anak-anak Belanda dibesarkan oleh pengasuh Jawa dan berbahasa Jawa sebagai bahasa pertama mereka, tidak dapat berkembang di Aceh. Foto itu adalah bukti ada pembangunan di ibukota kolonial Aceh dan ada dokumen mengenai masyarakat kolonial delapan belas tahun setelah raja dikuasai Belanda. Foto itu adalah cermin buatan mengenai penduduk kolonial. Suara kaum perempuan jarang direkam dalam sejarah Aceh, meski beberapa perempuan kelas atas seperti Cut Meutia dan Cut Nya Dien, dijadikan dongeng dalam biografi pahlawan-pahlawan nasional Indonesia dan dalam film.
            Tulisan-tulisan sejarah pertemuan Aceh dengan Belanda dan Hindia Belanda masih terfokus pada perubahan politik daripada pada perubahan sosial.
Kesimpulan
Foto-foto dalam koleksi KITLV menunjukkan keanekaragaman Aceh: pemandangan alam yang indah, kemiskinan, dan ciri-ciri budaya yang menghubungkan Aceh dengan kebudayaan di seluruh Indonesia. Foto-foto itu menggambarkan hal-hal langka. Foto-foto itu juga memperlihatkan masa-masa awal perkembangan pertanian niaga di perbukitan yang sudah digunduli hutannya untuk dijadikan perkebuan, pembangunan jalan, dan lintasan kereta api.
            Peperangan yang dilakukan Belanda di Aceh banyak tercatat pada zaman foto dapat diperbanyak. Perlawanan merupakan ciri yang dapat disimpulkan dari kisah nasional yang sedang dibangun di Jawa oleh Soekarno. Foto telah membantu menempa sebuah identitas bagi Aceh yang melahirkan perbedaan dan peminggiran. Tinjauan atas arsip foto menunjukkan bahwa sejarah baru dapat diciptakan. Selama waktu yang singkat perkenalan Aceh dengan masyarakat Hindia Belanda, orang Aceh menunjukkan keengganan dipimpin oleh orang Indonesia dari suku-suku yang lain. Arsip visual dapat dijadikan alat penting untuk memahami kedudukan Aceh dalam sejarah Indonesia; arsip foto menawarkan ide-ide untuk menulis sejarah sosial untuk mengimbangi sejarah politik yang sudah ada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kritik, Saran, dan Pertanyaan tulis aja disini.