Senin, 11 Februari 2013

Sejarah dan Misteri Lagu Genjer-genjer dari Banyuwangi

Lagu genjer-genjer yang asli diciptakan oleh Almarhum Muhammad Arief yang merupakan pencipta lagu yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. "Genjer-genjer" mungkin merupakan lagu paling kontroversial di Indonesia. Awalnya diciptakan sebagai senandung kala memetik tanaman genjer, lalu berevolusi menjadi materi propaganda politik, agitprop terlarang, sampai akhirnya lagu protes. Genjer-genjer merupakan cermin sejarah Indonesia.




Penduduk miskin Jawa hidup dalam kelaparan selama berlangsungnya pendudukan Jepang (1942-1945) dari Hindia Belanda, sekarang Indonesia. Rakyat kelaparan Banyuwangi, Jawa Timur, mencoba segala sesuatu yang mungkin dimakan untuk mengganjal rasa lapar mereka, termasuk tanaman air genjer-genjer. Tanaman tumbuh di sepanjang tepi sungai dan kerap digunakan sebagai pakan ternak.
 
Muhammad Arif, seorang penulis lagu dari daerah yang sama, tahun 1943 menggubah sebuah lagu sedih tentang genjer-genjer. Lagu bercerita mengenai seorang wanita yang sedang memetik genjer-genjer kemudian menjualnya di pasar. Lagu ciptaan Arief sangat populer di kalangan rakyat Banyuwangi.

Lagu berjudul Genjer-genjer menjadi salah satu penggalan cerita yang mengiringi peristiwa Gerakan 30 September atau yang dikenal dengan sebutan G30S-Partai Komunis Indonesia. Konon, lagu yang menceritakan tentang tanaman genjer (limnocharis flava) itu dinyanyikan oleh anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani)-PKI, saat menyiksa para petinggi TNI di Lubang Buaya.
Cerita mengerikan versi Orde Baru yang lambat laun mulai diragukan seiring tidak terbuktinya penyiksaan para jenderal itu, membuat image lagu Genjer-genjer ikut pula mengerikan. Apalagi, G30S diikuti rentetan penculikan dan pembunuhan di beberapa kantong PKI. Termasuk di Banyuwangi, tempat pencipta lagu Genjer-genjer Muhammad Arief tinggal.

Benarkah lagu Genjer-genjer identik dengan PKI? Pertanyaan lama yang selalu dibantah, namun tetap tidak menghapus stigma. Budayawan Banyuwangi Fatrah Abbal, 76, menceritakan, lagu Genjer-genjer diilhami oleh masakan sayur genjer yang disajikan Ny. Suyekti, Istri Muhammad Arief di tahun 1943.


“M.Arief heran, tanaman yang awalnya dikenal sebagai makanan babi dan ayam itu ternyata enak juga dimakan manusia, akhirnya ia mengarang lagu Genjer-genjer,” katanya. Begitu terkenalnya lagu yang nadanya mirip dengan lagu rakyat berjudul Tong Ala Gentong Ali Ali Moto Ijo itu hingga Seniman Bing Slamet dan Lilis Suryani pun menyanyikannya.

Kedekatan lagu itu dengan PKI tidak bisa dilepaskan dengan kondisi politik di tahun 1965. Masa di mana politik Indonesia membuka ruang bagi ideologi apapun itu membuahkan persaingan antar partai politik. Termasuk persaingan dalam hal berkesenian.

Seperti Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan Lembaga Kesenian Nasional (LKN), Partai Nahdlatul Ulama (NU) dengan Lesbumi, Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) serta Masyumi dengan Himpunan Seni dan Budaya Islam (HSBI). “Lekra menggandeng seniman Banyuwangi, termasuk Muhammad Arief,”.

Sejak digandeng Lekra, seni Banyuwangi-an semakin dikenal. Banyak lagu-lagu Banyuwangi yang sering dinyanyikan di acara PKI dan underbownya. Termasuk lagu Genjer-genjer yang diciptakan di tahun 1943, lagu Nandur Jagung dan lagu Sekolah.

Muhammad Arief sebagai seniman pun ditawari bergabung dengan Lekra dan ditempatkan sebagai anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi. Seniman yang dulu bernama Syamsul Muarif itu juga diminta mengarang lagu yang senapas degan ideologi PKI. Seperti lagu berjudul Ganefo, 1 Mei, Harian Rakyat, Mars Lekra dan Proklamasi.

“Kalau kita resapi, lagu Genjer-genjer memang tidak memiliki makna apa-apa, hanya bercerita tentang tanaman genjer yang dulu dianggap sampah kemudian mulai digemari,”.
“Genjer-genjer, nong kedok’an pating keleler, emak’e tole, teko-teko, mbubuti genjer, oleh sak tenong, mungkor sedot, seng tole-tole, genjer-genjer, saiki wis digowo muleh,” adalah bait asli dari lagu genjer genjer.

Entah, siapa yang memulai, pasca G30S, syair lagu Genjer-genjer pun dipelesetkan dengan syair yang menceritakan aksi penyiksaan para jenderal korban G30S. “Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler, Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral, Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh, Jendral Jendral saiki wes dicekeli,” Begitu bunyi gubahan lagu itu. “Gubahan itu sebenarnya tidak ada!”

Ketika pengambilalihan kekuasaan oleh Jenderal Suharto tahun 1965, lagu Genjer-genjer menjadi dilarang. Pemimpin baru mengatakan anggota komunis perempuan menyiksa enam jenderal sembari mendendangkan lagu Genjer- genjer. Lagu berganti nama menjadi Jendral-Jendral dan teks menggambarkan bagaimana penyiksaan sebenarnya dilakukan. Sejak itu lagu Genjer-genjer dilarang karena identik dengan komunisme "jahat."

Setelah kudeta tahun 1965, jutaan orang yang dicurigai bersimpati terhadap komunisme ditangkap atau dibunuh. Muhammad Arif, penulis lagu Genjer-genjer, adalah salah satu korbannya. Lagunya dihapus dari memori kolektif. Seluruh generasi Indonesia mengetahui keberadaan Genjer-genjer, tetapi tidak ada satu nadapun yang mereka kenal.

Tapi sekarang, di era pra-Soeharto, Genjer-genjer kembali. Para korban rezim akhirnya leluasa berbicara dan lagu Genjer-genjer sekali lagi  beralih fungsi. Kali ini menjadi simbol penindasan junta Suharto. Lagu kembali populer saat dipakai dalam sebuah film kontroversial yang menggambarkan situasi Indonesia tahun 60-an.

1 komentar:

Kritik, Saran, dan Pertanyaan tulis aja disini.